Pohon-pohon saling berbisik, “Majapahit sudah diambang kehancuran.” Angin mendesis, kemudian bergerak memasuki istana Majapahit yang megah melalui lubang-lubang kecil. Di ruang pancaniti (tempat untuk berunding mengenai urusan pemerintahan) angin itu berputar-putar perlahan, menggerakkan bulu-bulu halus Prabu Brawijaya V dan Patih Madagotra yang sedang terpekur, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada orang selain mereka. Dinding-dinding dan arca-arca bisu menjadi saksi keheningan dua orang yang paling berpengaruh di kerajaan Majapahit itu. Angin pun kemudian diam. Prabu Brawijaya mendesah dan menggeleng. Kedua tangannya saling merekat, lalu menopang dagunya. Keriput-keriput kulit mukanya tidak mampu menutupi kegagahan raganya. Pandangan matanya lurus menatap Madagotra. Tangan kanannya kemudian melepas dan bersandar pada sisi singgasananya yang megah. “Ketahuilah, Patih. Si Patah itu pikirannya tidak baik. Mengapa ia mesti memaksa dengan peperangan?” ucap Prabu Brawijaya memecah keheningan. Madagotra menengadahkan kepalanya, menatap ke arah rajanya sesaat, lalu menunduk lagi dalam keheningan. Hatinya juga sependapat dengan Prabu Brawijaya. Namun, ia pernah dekat dengan Raden Patah, dan ia merasa paham dengan sifat putra Prabu Brawijaya itu. “Ampun, Paduka,” ujar Madagotra menangkupkan kedua telapak tangannya. “Mungkinkah peperangan ini hanyalah sekadar sarana saja?” Prabu Brawijaya diam mendengar ucapan patihnya. Ia pun menduga-duga seperti yang diungkapkan Madagotra. “Walaupun begitu, aku tetap tidak setuju.” Madagotra mahfum. Prabu Brawijaya tiba-tiba berdiri dari singgasananya. Ia berjalan ke arah Madagotra dengan langkah yang sangat perlahan. Setibanya di sebelah patihnya, ia berjongkok dan memegang pundak Madagotra. “Patah iku tegesè putung. Patah itu artinya putus. Maksudnya, wataknya terpisah dari perwatakanku, ayahnya. Terpisah karena benihnya kurang murni, yaitu dari ibunya yang putri Prabu Tan Gong Lwat di Kwantong, Cina.” Madagotra mengangguk. “Oleh karena itu,” Prabu Brawijaya berdiri, “janganlah lupa untuk memberikan peringatan pada tulisanmu, agar menjadi contoh teladan pada waktu yang akan datang. Jangan sampai membuat benih rusuh seperti yang terjadi pada diriku. Para raja sepeninggalku jangan sekali-kali memperistri seorang perempuan dari bangsa lain dan dari agama lain.” Prabu Brawijaya berjalan ke arah singgasananya lagi dan duduk, “Aku merasa bersalah telah memperistri putri Campa dan putri Cina. Seandainya aku tidak jatuh cinta pada putri Campa, aku tidak akan berganti agama. Dan seandainya aku tidak memperistri putri Cina, aku tidak akan berputrakan si Patah.” Prabu Brawijaya mendesah, “Sekarang, bagaimanapun juga sudah terlanjur, dan ini sudah menjadi takdirku.”
Kedua tangannya kembali ditautkan di depan dadanya, “Kini, aku meminta pendapatmu, Patih. Bagaimana jika seumpama si Gugur yang menjadi panglima perang untuk menyongsong serangan si Patah?” “Raden Gugur belum bisa diandalkan menjadi panglima perang, sebab ia masih terlalu muda, Paduka,” jawab Madagotra hormat. “Bagaimana dengan Adipati Terung?” “Adipati Terung orang Palembang dan juga beragama Islam. Bahkan, ia saudara satu ibu dengan Raden Patah. Jika berperang, ia pasti akan berbalik memihak Raden Patah.” Prabu Brawijaya mengangguk. Madagotra sekilas menatap rajanya yang terlihat memikirkan sesuatu. Sebuah rencana yang sudah disiapkannya. “Apa Paduka mempunyai kehendak?” Prabu Brawijaya menegakkan badannya. “Pertahanan si Patah saat ini pasti sudah sangat kuat, sebab para raja di pesisir pantai dan Madura sudah ditaklukkannya. Seumpama aku lawan sendiri, pasti ditertawakan oleh para dewa. Jadi, lebih baik aku pergi ke Bali, menemui adinda Prabu Dewa Agung. Aku akan mencoba meminta bantuannya untuk merebut kembali tanah Jawa. Aku tidak rela jika si Patah menggantikan kekuasaanku.” “Bagaimana dengan hamba, Paduka?” “Kamu tidak perlu ikut, Patih. Biarlah Kakang Sabdapalon yang menemaniku. Sepeninggalku, berperanglah kamu melawan pasukan si Patah, tetapi jangan sampai ada pembunuhan. Kasihan dengan orang-orang kecil. Terus terang aku heran pada orang Arab itu dan para wali semuanya, sifatnya sama seperti tikus. Mereka berdatangan ke negaraku dan kuterima dengan baik-baik. Aku memberikan mereka tanah dan juga kemuliaan, namun akhirnya mereka tega menggerogoti kerajaanku. Bahkan, putraku sendiri dibujuk agar memusuhiku.” Prabu Brawijaya memandang langit-langit dengan tatapan kosong, lalu beralih pada Madagotra, “Ya sudah, aku berangkat sekarang. Sekembalinya aku dari timur, segeralah kamu menjemputku.” “Sandika , Paduka,” ujar Madagotra menjura.
Mereka berdua kemudian meninggalkan ruangan pancaniti untuk mempersiapkan segalanya.
Angin kembali berembus, meninggalkan ruangan itu, menyelip di antara lubang-lubang kecil, dan melesat keluar istana Majapahit. Di sana ia pun membisiki pohon-pohon. Di hutan perbatasan antara wilayah Majapahit dan Demak, serombongan besar pasukan Demak terlihat memenuhi jalan setapak dan memanjang sampai jauh ke belakang. Diperkirakan jumlahnya mencapai 5000 orang. Raden Patah memimpin sendiri pasukannya itu, untuk menaklukkan Majapahit. Di sebelah kirinya, Sunan Kalijaga duduk menemani menunggang kuda. Dan di belakangnya turut mengikuti para bupati dari beberapa daerah pesisir pantai dan Madura. Pohon-pohon pun berbisik, “Demak akan berjaya.” Angin mendesis, menggerakkan bulu-bulu halus di tengkuk Raden Patah. Pandangannya tajam menatap jalan. Ia mendesah.
Bukan kemauannya untuk berperang melawan kerajaan ayahnya. Tetapi, Majapahit harus ditaklukkan untuk memudahkan penyebaran agama Islam. Ia percaya, sebenarnya ayahnya mau menerima ajakannya untuk berislam, tetapi entahlah. Mungkin ayahnya terlalu gengsi. Ia pun tidak menginginkan peperangan ini, dan pasukan sebesar ini hanyalah untuk jaga-jaga saja. Persis seperti yang diucapkan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang beberapa hari yang lalu di Masjid Demak. “Bukanlah peperangan yang kita inginkan,” ucap Sunan Kalijaga. “Lalu?” tanya Raden Patah. “Kita hanya bersikap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.” “Ya,” sambung Sunan Bonang. “Kita masih ingat dengan peristiwa futhul makkah . Kanjeng Rasulullah berbondong-bondong dengan pasukan musliminnya yang sangat besar ketika memasuki kota Mekah. Beliau tidak menginginkan perang, tetapi tetap waspada. Dan akhirnya kota Mekah berhasil direbut tanpa setetes darah pun yang tertumpah.” Raden Patah mengangguk. “Kita pun menginginkan hal seperti itu terhadap Majapahit. Apalagi Prabu Brawijaya adalah ayah kandungmu sendiri, Raden,” sahut Sunan Kalijaga. Raden Patah membenarkan. “Namun harus kita ingat,” sambung Sunan Bonang, “peristiwa penaklukan kota Mekah mempunyai nilai keimanan yang sangat penting. Bahwa kemenangan dan kejayaan bukanlah berasal dari usaha dan rencana kita. Fasabbih bihamdi Rabbika wastaghfir . Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.”
Angin berputar-putar di antara para pasukan Demak, mengibarkan panji-panji kebesaran dan menggetarkan rambut-rambut mereka. Angin seakan tahu, dan langsung melesat ke angkasa tinggi. Hanya berjarak sekitar 100 tombak dari Raden Patah ke arah depan, pasukan Majapahit yang dipimpin langsung oleh Madagotra yang menunggang kuda hitam mengkilat berdiri menunggu dengan gagahnya. Di sebelahnya berdiri seekor kuda putih yang bersih, dan ditunggangi oleh Adipati Terung. Adipati Terung memang seorang muslim, tetapi ia juga tidak mau mengkhianati kerajaan Majapahit. Ia yakin, pasukan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah dan beberapa wali akan bertindak adil dalam peperangan ini. Tidak lama kemudian, kedua pasukan itu bertemu. Pasukan Demak yang berjumlah sangat besar, berhadapan dengan pasukan Majapahit yang hanya berjumlah sekitar sepertujuhnya saja. Angin berembus lagi menerbangkan debu-debu di antara kedua pasukan itu, mengibarkan kain-kain yang dikenakan oleh para pembesar dari kedua pasukan itu. Peperangan besar tampaknya tidak dapat dihindarkan. Sesaat kemudian Raden Patah dari pihak kerajaan Demak maju ke tengah arena bersama dengan Madagotra dari pihak kerajaan Majapahit. Pandangan mata mereka saling menatap dengan tajam, namun ada keharuan di lubuk hati masing-masing. Mereka berdua tak kuasa untuk mengangguk dan tersenyum. “Bagaimana kabarmu, Paman?” tanya Raden Patah. “Baik, Raden. Aku lihat, Raden juga begitu adanya.” Raden Patah mengangguk. “Aku tidak melihat ayahku, di mana beliau?” “Paduka pergi ke Bali, menemui Prabu Dewa Agung.” Ah, Ayah pasti meminta bantuan, bisik Raden Patah. Perjuangannya mengajak ayahnya menemui duri yang sangat tajam. Namun Raden Patah bersyukur, karena ia tidak perlu berhadapan langsung dengan ayahnya di peperangan ini. “Raden,” ucap Madagotra kemudian, “Patutkah kita berperang?” “Bagaimana dengan pendapatmu, Paman?” “Aku hanya menjalankan titah dari paduka, tidak lebih.” “Kalau begitu, kita harus berperang.” Madagotra mengangguk. “Sampaikan salamku untuk Dimas Terung, Paman,” sahut Raden Patah sesaat, dan langsung berbalik kembali ke arah pasukannya. Madagotra pun juga kembali berbalik ke arah pasukannya.
Raden Patah mengangguk ke arah Sunan Kalijaga, juga kepada beberapa kepala regu pasukan Demak. Ia telah merencanakan sesuatu dalam peperangan ini. Dan jantung-jantung manusia di kedua pasukan berdenyut dengan sangat cepat, bersamaan dengan peluh yang belum saatnya keluar. Raden Patah membisikkan asma Allah dengan sangat perlahan, lalu perlahan-lahan ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan berseru…. “Allahu Akbar!!!” Serentak saja sahutan takbir bergema di kubu pasukan Demak dan bergerak maju. Pasukan Majapahit pun tak kalah berteriak lantang dan juga merangsek maju. Kedua pasukan kerajaan terbesar di pulau Jawa itu akhirnya terlibat pertempuran. Peperangan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh pembesar-pembesar mereka, dan juga oleh anak buahnya. Peperangan antara dua kubu ayah dan kubu anak. Prabu Brawijaya V dengan Raden Patah. Suara-suara senjata beradu dengan sangat cepat, beriringan dengan suara takbir, dan juga teriakan kesakitan beberapa orang yang terluka. Perang berlangsung dengan sangat tidak seimbang. Pasukan Demak mulai merangsek maju dan membabat pasukan Majapahit yang berani menghadangnya.
“Majapahit pasti kalah,” bisik pohon-pohon. Madagotra tahu hal itu, namun ia tidak mau mengingkari titah Prabu Brawijaya. Dan ia juga telah menggunakan siasat agar pertempuran ini tidak terlalu memakan banyak korban. Pada situasi yang dianggapnya tepat, tiba-tiba Madagotra mengacungkan tombaknya ke atas dan gerak kedua pasukan pun terhenti melihat aksinya itu. Raden Patah tersenyum dan bersyukur melihat hal itu, begitu pula dengan Adipati Terung dan para wali. Ya, pertempuran itu berhenti setelah berjalan tidak lama. Madagotra telah mengangkat sebuah bendera putih yang diikatkan di ujung tombaknya, sebagai tanda bahwa Majapahit telah menyerah. Sebagai seorang patih yang bijaksana ia tahu keinginan Prabu Brawijaya, yaitu berperang tanpa menimbulkan banyak korban. Raden Patah kagum dengan kesatriaan dan kepandaian Madagotra. Ia tidak menyangka bahwa strateginya juga diikuti oleh Madagotra. Kedua orang itu berstrategi untuk tidak membunuh musuhnya. Dan hal itu terbukti, kendati banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Darah memang tertumpah. Tetapi, tidak ada nyawa yang melayang.
Kerajaan Majapahit takluk oleh kerajaan Demak. Dan pekik takbir pun terdengar lagi, membahana ketika pasukan Demak memasuki ibu kota Majapahit. Angin berembus dengan sangat cepat, melewati sungai dan lembah-lembah. Membisiki pohon-pohon atas kemenangan Demak. Angin itu membawa gumpalan awan yang cerah ke Ngampel, menyusul Raden Patah dan Sunan Kalijaga menemui istri mendiang Sunan Ngampel, yang juga merupakan eyang putri Raden Patah. Angin itu kemudian bergerak perlahan ketika memasuki sebuah rumah dan membelai kulit manusia yang sedang berkumpul, tepat saat Raden Patah mengutarakan keperluannya pada eyang putri. Ia juga menjelaskan perihal peperangannya, dan juga lolosnya Prabu Brawijaya. Eyang putri menangis mendengar hal itu. Ia menangis karena teringat dengan budi pekerti Prabu Brawijaya yang lurus, lalu berkata, “Kamu itu sebenarnya putra siapa dan diangkat menjadi raja Demak oleh siapa?” “Aku putra Brawijaya. Aku diangkat menjadi khalifah di Demak atas persetujuan para wali dan para bupati di sekitar pesisir pantai dan Madura yang sudah memeluk agama Islam,” jawab Raden Patah. “Jika kamu putra Brawijaya, kenapa berani menyerang kerajaan ayahmu? Apakah kamu ingin segera menjadi raja besar?” Raden Patah terhenyak, lalu berbicara perlahan, “Aku tidak mau menjadi raja besar, Eyang.” Lalu ia mencoba mengatur hatinya. “Aku menyerang kerajaan ayah karena ia tidak mau menerima Islam. Aku hanya ingin mengajaknya berislam. Dan peperangan itu hanyalah sebagai sarana saja.” “Sarana bagaimana?” teriak Eyang putri, lalu menangis. Raden Patah bingung menghadapi eyangnya yang sudah lanjut usia itu. Tiba-tiba Eyang putri langsung memarahi cucunya habis-habisan. Ia mengatakan bahwa seorang anak tidak pantas melawan ayahnya, apalagi ayahnya adalah seorang raja yang lurus budi pekertinya, yang adil dan bijaksana terhadap rakyatnya. Dan Raden Patah mengetahui, bahwa Eyang putri memang sangat sayang kepada ayahnya. “Sekarang,” sahut Eyang putri keras, “susullah ayahmu ke Bali dan ajak ia kembali untuk memerintah Majapahit.” Raden Patah bingung, namun ia langsung menjura dan bergegas ke luar rumah eyang putrinya. Ia merasa sedih sekali dimarahi oleh eyang putrinya. Air matanya tidak tertahan lagi saat itu juga. Sunan Kalijaga yang juga mengikutinya keluar, langsung memegang pundaknya. “Raden,” ucapnya lembut, “lebih baik engkau menemui Kakang Sunan Bonang di Demak. Beliau lebih tahu tentang masalah ini.” Raden Patah menatap Sunan Kalijaga, lalu mengangguk. Ia pamit dan langsung memacu kudanya pergi ke Demak. Angin pun berembus cepat mengikutinya, kembali melewati sungai dan lembah-lembah. “Tidak usah kamu pikirkan, Ngger,” ujar Sunan Bonang kepada Raden Patah, setelah ia sampai di Desa Bonang. “Eyang putrimu sedang sedih dan terbawa emosi. Seseorang yang emosinya sedang tinggi tidak usah dituruti. Tetaplah menjadi khalifah di Demak ini dan teruslah menyebarkan agama Islam. Aku yakin, ayahmu pasti akan mudah menerima cahaya Islam.” “Bagaimana dengan usulan Eyang putri, Kanjeng Sunan?” “Lebih baik kamu memerintahkan Madagotra untuk menjemputnya. Ia lebih dekat dan lebih mengerti tentang ayahmu itu.” Raden Patah mengangguk. Angin mendesis, dan pohon-pohon pun berbisik. Di suatu tempat, Prabu Brawijaya menatap Madagotra yang telah menjemputnya dari perjalanannya ke timur. Ia merasa heran dengan penampilan patihnya itu yang sudah berubah banyak, kendati ia sudah tahu bahwa Majapahit telah kalah. “Ada apa denganmu?” tanya Prabu Brawijaya.
Madagotra tersenyum, “Aku telah berislam, Paduka.”
Perpustakaan 19.02.03
*) Menurut naskah Babad Kediri, akhirnya Prabu Brawijaya V juga berislam.
credits to: aswi